Senin, 10 Desember 2012

Lulusan Sekolah : Siap latih, belum siap kerja.

Sebagian besar dari lulusan sekolah lanjutan atas yang dihasilkan oleh dunia pendidikan tidak semuanya beruntung dapat meneruskan ke Perguruan Tinggi, karena berbagai macam alasan, alasan yang paling umum adalah tidak adanya biaya pendidikan. Lulusan sekolah yang tidak dapat melanjutkan sekolah kejenjang pendidikan yang lebih tinggi, maka mereka memilih masuk menjadi angkatan kerja dan hal ini menambah deretan panjang penganggur atau mereka yang mencari pekerjaan.

Untuk mendapatkan pekerjaan bagi lulusan sekolah lanjutan atas ternyata tidak mudah, karena saingan untuk masuk ke pasar kerja bagi sangat ketat. Jumlah lulusan sekolah lanjutan atas sangat banyak sementara kesempatan lowongan kerja sangat terbatas. Disamping kesempatan yang sangat terbatas perusahaan atau pengguna kerja dalam memerima tenaga kerja memberikan syarat pekerjaan pada jabatan dan pekerjaan tertentu dengan kualifikasi keahlian tertentu yang sesuai dengan pekerjaan yang akan diberikan kepada calon tenaga kerja yang bersangkutan.

Jumlah lulusan sekolah lanjutan atas yang memasuki pasar kerja secara kuantitas memang sangat banyak, tetapi dilihat dari segi kualitas pada umumnya masih rendah. Pada umumnya tamatan lulusan sekolah atas belum siap pakai artinya sebenarnya belum siap kerja, melainkan baru siap latih. Mereka pada umumnya baru siap untuk dilatih, baik melalui jalur pelatihan pemagangan maupun jalur pelatihan yang banyak diselenggarakan oleh lembaga pelatihan swasta.

Dengan masih terdapatnya kesenjangan antara kualitas sebagian besar tenaga lulusan sekolah lanjutan asas ini dengan kualifikasi lowongan kerja yang disyaratkan oleh dunia kerja ini, telah banyak memberi peluang didalam masyarakat berinsiatif mendirikan lembaga pedidikan swasta (kursus) yang menawarkan berbagai macam jenis pelatihan dan keahlian yang diarahkan untuk memenuhi kualifikasi lowongan kerja yang dibutuhkan perusahaan (dunia kerja).

Lembaga pelatihan swasta (kursus) terutama dikota besar banyak bermunculan seperti jamur dimusim hujan dengan menawarkan berbagai jenis pelatihan dan keahlian, walaupun dilihat dari segi program pelatihan, instruktur dan sarana pelatihan masih banyak yang memprihatinkan apalagi kalau melihat dari kompetensi lulusannya. Kalau kondisinya  demikian tentu  munculnya lembaga pelatihan swasta belum memberikan solusi guna mempersempit jurang kesenjangan atau sebagai jembatan mengurangi kesenjangan antara kualifikasi tenaga kerja yang ditawarkan dengan kualifikasi ketrampilan dan keahlian yang diharapkan dunia kerja atau pemberi kerja. 

Guna mempersempit atau mengurangi kesenjangan yang selama ini masih terjadi yang semestinya dapat dilakukan oleh lembaga pelatihan swasta maupun lembaga pelatihan milik pemerintah, maka mau tidak mau atau suka tidak suka semua program dan jenis pelatihan harus mengarah ke pelatihan yang berbasis kompetensi dan pelatihan kerja yang mengarah kepada keahlian dan kertampilan yang dibutuhkan dunia kerja dan dunia usaha (usaha mandiri). Dengan demikian diharapkan lembaga pelatihan kerja, tidak saja mencipkakan tenaga kerja yang siap pakai juga tenaga kerja yang siap untuk usaha mendiri dan menciptakan lapangan usaha serta lapangan kerja.

Yang juga tidak kalah pentingnya untuk mengatasi kesenjangan tersebut diatas adalah uluran tangan pemerintah dalam hal ini pemerintah daerah, yaitu dinas terkait yang berhubungan dengan perijinan dan pembinaan Lembaga Pelatihan Swasta (LPS) dan pembinaan usaha mandiri seperti Dinas Tenaga Kerja, Dinas Pendidikan dan Dinas Sosial. Untuk lebih sering melihat kondisi yang ada disetiap lembaga pelatihan yang ada diwilayahnya. Apakah LPS yang banyak bermunculan dengan menawarkan  berbagai program dan jenis pelatihan, memang layak sebagai tempat pelatihan yang memenuhi standar atau sekedar mencari kesempatan dalam kesempitan, yaitu hanya mementingkan unsur bisnis guna mencari keuntungan semata.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar